SEMARANG (MEDIAAKTUAL.ID) — Gelombang transformasi digital yang dipacu oleh kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini merambah hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat, mulai dari ruang kelas hingga lingkungan perkantoran.
Fenomena ini melahirkan kebiasaan baru, ketika dihadapkan pada persoalan rumit, tangan kita cenderung lebih cepat membuka ponsel daripada memberi ruang bagi pikiran untuk mengendapkan jawaban.
Data Consumer Insights 2026 mencatat bahwa penetrasi AI dalam dunia pendidikan di Indonesia telah menyentuh angka 61 persen. Angka itu jauh melampaui adopsi di negara-negara seperti India dan Amerika Serikat yang berada pada tingkat 22 persen, serta Belanda sebesar 14 persen.
Hal itu disampaikan Direktur Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Semarang (USM LCC) Dr. Adi Ekopriyono, M.Si dalam press release, kemarin.
Dia menekankan pentingnya membangun tatanan mental dan filosofis yang kokoh agar masyarakat tidak sekadar menjadi pengadopsi pasif, melainkan mampu menyiasati teknologi dengan bijaksana.
”Melawan AI adalah pekerjaan yang sia-sia, dan mengabaikannya jelas tidak mungkin. Namun, menerima AI begitu saja tanpa daya kritis juga sangat berbahaya. Yang kita butuhkan adalah cara ketiga, yaitu mengambil manfaat teknologinya, tetapi tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan kita,” tutur Adi Eko.
Nilai Luhur Budaya
Menurut Adi, kebudayaan tradisional bukanlah memori nostalgia masa lalu, melainkan kompas hidup untuk menapak masa depan. Dalam konteks dinamika peradaban digital saat ini, nilai-nilai kearifan lokal Jawa—seperti eling, waspada, rasa, tepa selira, aja dumeh, hingga memayu hayuning bawana—menawarkan pegangan etis yang amat presisi.
Eling (Sadar dan Berorientasi): kecepatan AI dalam menyusun teks, menerjemahkan bahasa, hingga menganalisis data berisiko membuat manusia kehilangan kesadaran atas proses berpikirnya sendiri.
Eling menegaskan bahwa manusialah yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya. Prinsip ini selaras dengan AI Competency Framework dari UNESCO yang mengedepankan human-centred mindset serta human agency.
Waspada (Filtrasi Kritis): AI mampu menyajikan jawaban yang meyakinkan meskipun informasi di dalamnya belum tentu benar. Sikap waspada mendorong manusia untuk senantiasa menguji validitas, mengecek sumber data, dan mempertimbangkan dampak sebelum mengambil keputusan.
Rasa Pangrasa (Empati Kemanusiaan): kendati AI dapat memproses ribuan data tentang kesedihan atau dinamika sosial, kepekaan emosional dan empati sejati hanya dimiliki oleh manusia. Seorang pendidik tidak hanya memerlukan AI untuk menyusun silabus, melainkan butuh rasa untuk membaca ekspresi dan mendukung emosional peserta didiknya.
“Pinter tanpa rasa bisa dadi sengsara,” katanya.
Aja Dumeh dan Ngundhuh Wohing Pakarti: kerendahan hati (aja dumeh) dibutuhkan agar kecanggihan teknologi tidak berujung pada kesombongan intelektual. Selain itu, prinsip ngundhuh wohing pakarti mengingatkan bahwa pemanfaatan AI hari ini—baik untuk memperluas pengetahuan maupun untuk manipulasi—akan membuahkan konsekuensi pada peradaban manusia di masa depan.
Memayu Hayuning Bawana: seluruh lompatan inovasi pada akhirnya harus diuji dengan satu pertanyaan mendasar: Apakah AI membuat kehidupan dunia menjadi lebih harmonis, adil, dan seimbang?
Kebijaksanaan Lebih Utama
Adi meluruskan pemaknaan ungkapan alon-alon waton kelakon. Falsafah itu kerap disalahartikan sebagai pembenaran untuk bersikap lambat. Padahal, di tengah arus teknologi yang serba cepat, alon-alon waton kelakon justru menjadi pengingat akan pentingnya ketepatan, kehati-hatian, dan keselamatan.
”Indonesia dan masyarakat kita tidak perlu bernafsu menjadi yang paling cepat dalam mengadopsi AI, melainkan harus menjadi yang paling matang dan bijaksana dalam memanfaatkannya. Cepat itu urusan teknologi, tetapi bijaksana adalah kepunyaan manusia. Pada akhirnya, AI hanyalah cermin dari diri kita sendiri—teknologi boleh berkembang secepat apa pun, tetapi manusia harus tetap menjadi manusia,” pungkasnya.
01







