DEMAK (MEDIAAKTUAL.ID) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Semarang (USM) memberikan Pelatihan Sistem Budi Daya Akuaponik pada Pekarangan yang Tidak Terdampak Banjir Rob kepada Ibu-Ibu Wanita Nelayan Desa Timbulsloko, Kabupaten Demak pada 28 Agustus 2026.
Tim PkM USM terdiri atas Ketua Anisa Rachma Sari, S.Si, M.Si, anggota Ir. Dewi Larasati, M,Si dan Dr. Rohmini Indah Lestari, S.T., MM. Mereka dibantu dua mahasiswa Prodi Teknologi Informatika, Muhamad Khusnu Marom dan Reino Avansatria.
Anisa mengatakan, Desa Timbulsloko adalah daerah terdampak parah oleh banjir rob secara berkala maupun permanen. Awalnya, desa tersebut kawasan sawah produktif dan tambak, namun sejak tahun 2016 lahan pertanian maupun tambak secara total menghilang akibat rob.
”Peran wanita nelayan sangat penting dalam hal pengetahuan, keterampilan dan perilaku dalam menumbuhkan kesadaran pengelolaan lingkungan berkelanjutan dan berdaulat pangan menjadi pondasi untuk menopang kehidupan keluarga,” kata Anisa.
Dia menambahkan, budi daya akuaponik merupakan kombinasi budi daya akuakultur (ikan) dan hidroponik (sayur) secara bersamaan pada satu lahan sehingga memiliki kepraktisan dalam hal tempat, waktu, tenaga serta biaya.
Pembuatan akuaponik secara sederhana membutuhkan barang bekas seperti galon, bibit ikan, bibit tanaman sayur, serta tanah.
”Dalam pembuatannya tidak terlalu sulit. Peletakan galon akuaponik tidak perlu memakan tempat yang luas cukup di pekarangan yang tidak terdampak rob dengan penutup paranet,” ujar Anisa.
Jenis ikan dan tanaman sayur yang direkomendasikan pada budidaya akuaponik adalah lele dan kangkung karena kedua organisme tersebut memiliki daya tahan lingkungan yang tinggi dan pertumbuhannya cepat. Dari budidaya akuaponik dapat menghasilkan ikan dan sayur organik bebas pestisida untuk mendukung ketahanan pangan keluarga, tambah informasi Anisa
Menurutnya, untuk membudidayakan ikan lele pada wilayah yang terdampak rob, perlu memastikan salinitas awal 3-5 ppt dengan ketinggian air dijaga 80-100 cm. Sebelum benih lele ditebar dilakukan aklimatisasi selama 7 hari, jumlah benih disesuaikan dengan ukuran ikan dan wadah akuaponik.
”Pemeliharaan ikan lele dilakukan dengan pemberian pakan teratur, pemantauan kualitas air, suhu serta kebersihan tempat budi daya. Pemanenan lele pada umur 60-90 hari dengan bobot 200-250 g. Beberapa produk olahan lele seperti fillet lele, nuget, bakso, maupun lele asap,” ungkapnya.
Untuk proses penyemaian sayur kangkung, katanya, dilakukan dengan memasukkan biji kangkung ke rockwool/busa lalu dibasahi dan disimpan pada tempat teduh selama 5-7 hari.
Untuk membudidayakan kangkung dalam sistem akuaponik pastikan akar menyentuh permukaan air untuk mendapatkan nutrisi.
”Selain berbagai ilmu, kami juga melakukan promosi pengenalan Universitas Semarang secara umum dan Fakultas Teknologi Pertanian secara khusus dengan harapan dapat banyak pemuda yang belum kuliah untuk tertarik dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi,” tuturnya.
01







