SEMARANG (MEDIAAKTUAL.ID) – Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Semarang (USM) sukses menggelar seminar bertajuk “Kota Tangguh dan Layak Huni”. Acara yang berlangsung secara hybrid ini berpusat di Gedung Menara USM Lantai 7 dan disiarkan langsung melalui Zoom Meeting, diikuti mahasiswa dan masyarakat umum.
Kegiatan dibuka Wakil Dekan Fakultas Teknik USM, Dr. Kusrin, S.T., M.T. Dalam sambutannya, dia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan itu. Dia menekankan bahwa seminar tersebut merupakan langkah nyata kampus dalam merespons isu-isu strategis tata ruang dan lingkungan yang kian dinamis.
”Kami berharap, melalui kegiatan ini, para akademisi, mahasiswa, dan praktisi dapat bersinergi melahirkan solusi penataan ruang yang tidak hanya teoritis, tetapi juga adaptif dan mampu menjawab tantangan perkotaan secara nyata di lapangan,” katanya.
Kegiatan menghadirkan tiga narasumber ahli di bidangnya yakni Dr. Hendrianto Sundaro, S.E., M.T., dosen Program Studi S1 PWK USM. Dia menyampaikan meteri bertajuk “Ketangguhan di Balik Gang Sempit: Menyingkap Daya Adaptasi Sosio-Ekonomi Kampung Kota Menghadapi Krisis”.
Dalam paparannya, dia menekankan bahwa krisis perkotaan modern tidak lagi sekadar guncangan fisik, melainkan krisis sistemik yang menguji daya tahan ekonomi warga.
Dari penelitiannya di Semarang, terungkap tiga pola adaptasi UMKM kampung kota: kelompok Adaptif-Inovatif yang tanggap digitalisasi di pusat kota, kelompok Adaptif-Konservatif yang menjaga ketat arus kas di area industri/pesisir, serta kelompok Adaptif-Kohesif yang mengandalkan ikatan modal sosial di perbukitan.
”Ketahanan perkotaan di abad ke-21 tidak dibangun dari beton dan infrastruktur semata, melainkan berawal dari daya lenting komunitas lokal dan ekonomi akar rumputnya,” ujar Hendrianto.
Pemateri kedua Direktur CV Geopaksi Karya Konsultan, Prayogi, S.T., M.Si mengulas “Harmonisasi Tata Ruang Darat dan Laut dalam Konteks Perencanaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu”.
Menurutnya, ekosistem darat dan laut saling terhubung rapat, di mana aktivitas daratan memberi dampak langsung pada wilayah pesisir.
Integrasi antara Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) darat dan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) laut sangat krusial untuk mencegah konflik pemanfaatan ruang, meredam risiko bencana abrasi dan rob, serta mendukung pertumbuhan ekonomi biru yang berkelanjutan.
”Kolaborasi tata ruang darat dan laut adalah kunci mewujudkan wilayah pesisir yang aman, produktif, lestari, dan berkeadilan untuk generasi sekarang maupun masa depan,” ungkapnya.
Adapun pemateri ketiga adalah Ketua Ikatan Ahli Perencana (IAP) Jawa Tengah, Arif Gandapurnama, S.T., M.T., memaparkan materi “Kota Layak Huni dan Berketahanan”.
Mengacu pada Most Livable City Index (MLCI) dan standar ISO 37123, dia memproyeksikan bahwa pada tahun 2035 sebanyak 66,6% penduduk Indonesia akan memadati perkotaan.
Mengingat ancaman krisis pangan, disrupsi Artificial Intelligence, hingga fenomena urban heat, ia menegaskan pentingnya pemenuhan 28 indikator kualitas hidup, penyediaan ruang terbuka biru/hijau, dan infrastruktur inklusif bagi warga.
”Kota yang berketahanan harus memiliki kemampuan untuk menyerap, pulih, dan bersiap menghadapi berbagai guncangan masa depan demi mendorong pembangunan berkelanjutan serta kesejahteraan masyarakat yang inklusif,” jelas Arif.
01







